Friday, February 25, 2011

Short Message Service


SHORT MESSAGE SERVICE
by : eNOEeReM ‘11




I can see you, if you were not with me
I can say to my self, if you’re okay
I can feel you, if you were not with me
I can reach you my self, you...

Belum selesai suara lirih seorang Titz melantunkan lagu Not with Me, jari-jari kurus itu langsung mendaratkan diri di atas keypad sebuah telepon genggam yang medengungkan lagu tadi. Walhasil, lagu yang seharusnya berdurasi 3 menit 56 detik itu berakhir sebelum waktunya, dan Titz belum sempat mengeluarkan desah nafas Rapper-mellownya di penghujung lagu ini.

Nanda Mahayana, begitu orangtuanya menganugerahkan nama keagungan padanya tidak lekas terbangun meski alarm yang ia set semalam di handphone-nya itu sudah berhenti berdering sejak 7 menit yang lalu. Kedua kelopak matanya yang masih lengket satu sama lain karena perekat alami, ditambah udara dingin pagi hari yang membuat dua rahangnya berderak tidak beraturan, semakin memanjakan remaja jangkung itu di atas Spring Bed empuk bersprei coklat mudanya. Mungkin mimpinya malam ini terlalu sayang jika harus cepat-cepat ia akhiri, sehingga Nanda betah berjam-jam tanpa sedikitpun ingin kehilangan sepersekian detik momen-momen di mimpinya.

“Nanda! Bangun, Nak! Sudah shubuh.” sebuah suara lembut penuh kasih sayang memanggil.
Tidak ada jawaban.

“Nanda! Shubuh! Bangun!” si empunya suara meninggikan frekuensi kata-katanya.
Masih belum ada jawaban.

“Mahayana! Bangun!”

Kali ini, tidak ada nada-nada kasih sayang seperti pada panggilan pertama tadi. Pintu kamar Nanda yang tidak terkunci pun menjadi sasaran amuk seorang ibu paruh baya berdaster bunga-bunga itu. Dibanting sekeras-kerasnya, selayaknya The Rock melemparkan Stone Cold ke lantai ring dalam arena Smack Down.

Sontak, Nanda yang tengah dimanjakan oleh mimpinya terperanjat. Handphone yang terus ia genggam semalaman pun terpental beberapa centimeter dari tangannya. Satu panggilan nama belakang sudah sangat dimengerti olehnya. Itu berarti, ibunya itu tengah muntab. Tanpa dikomando, mahasiswa tingkat I Matematika FMIPA Institut Teknologi Bandung itu bergegas membenamkan kepalanya pada puluhan gallon air dalam bak mandi satu-satunya di rumah mungil keluarganya itu. Tanpa sikat gigi, tanpa sabun, ia akhiri acara mandi singkat satu menitnya itu. Kalau tidak diingatkan oleh adik perempuan kecilnya, Fahira, Nanda pasti sudah melupakan ritual shalat shubuh yang menjadi kewajibannya.

“Sudah jam 5, ka! Shalat dulu!” suara kecil si bungsu mengingatkan kakak keduanya itu.

“Apa?! Jam 5 ?!” kata Nanda setengah kaget.

Tanpa mengiyakan apa yang Fahira katakan, Nanda langsung bergegas memburu handphone yang ia tinggalkan di kamarnya.

“Dapat!”

Dicarinya nama Almaya Ariani di deretan kontak handphone Nokia-nya. Sepersekian detik setelah itu, bergegas ia tekan tombol panggil di deretan keypad. Kemarin, ia berjanji pada Aya, begitu Nanda memanggil Almaya, untuk membangunkannya tepat jam 4.30. Tapi sekarang sudah terlambat lebih dari 30 menit, dan pasti Aya sudah bangun mendahuluinya. Benar saja. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan singkat mampir di inbox-nya, dan tidak usah ditanya lagi itu dari Aya. Ia sangat kesal karena Nanda terlambat membangunkannya. Ingin Nanda menjelaskan yang terjadi sebenarnya, tapi suara berfrekuensi lebih dari 20.000 Heurtz yang keluar dari mulut ibunya mebuat ia melemparkan begitu saja Handphone-nya ke atas tempat tidur. Ia bergidik, dan langsung kembali ke kamar mandi, mengambil air wudhu, dan melaksanakan shalat shubuhnya yang tertunda.

Pagi ini, cuaca Bandung tidak begitu bersahabat. Baru beranjak jam 8 saja, langit sudah ditutupi awan-awan Cumulunimbus yang berarakan membentuk seperti barisan domba di savana hijau Sumbawa. Dengan menggunakan sepeda Down Hill merah yang kerap kali ia pakai menuruni jalan-jalan tanah perkebunan teh di Lembang, Nanda pun menelusuri ramainya Jalan Tamansari, menuju kampus tua tercintanya. Setelah memarkirkan sepedanya di antara deretan sepeda motor mahasiswa lainnya, dan menggembok roda depannya pada sebuah pohon, Nanda pun bergegas menuju kelas. Hari ini, adalah saatnya Kuis untuk mata kuliah Kombinatorika dan ia tidak boleh terlambat sedetik pun. Kalau ia sampai terlambat, bersiap saja untuk mengulang mata kuliah yang sama semester depan, juga dengan dosen yang sama, Bu Novriana yang terkenal killer itu.

Nanda masih beruntung, sesaat sebelum Bu Novri masuk ke kelas, Pa Syafrizal, dosen Teori Bilangan mengajaknya mengobrol. Dalam kesempatan yang sempit itu, Nanda berhasil melesat secepat Flash memburu tempat duduknya. Aroma debu kapur putih dan bangku kayu jati tua menandakan ia telah sampai lebih dulu sebelum Bu Novri.

“Terima kasih, Pa Syaf.” katanya dalam hati sambil menghela nafas beberapa kali karena telah berjuang keras mati-matian menuju kelas, melebihi perjuangan Saiya mengalahkan 12 Gold Saint dan menyelamatkan Putri Sauori, Athena.

“Hei, bodoh! Kenapa kau lari-lari segala?” suara Harlan mengagetkan Nanda.

“Ka Harlan! Aku berhasil, Ka. Aku berhasil masuk kelas tepat waktu sebelum Bu Novri. Perjuanganku berlarian tadi akhirnya tidak sia-sia. Aku tidak perlu mengulang mata kuliah menyebalkan ini semester depan.” kata Nanda dengan bersemangat.

“Dasar bodoh! Bu Novri sudah masuk kelas sejak 5 menit lalu. Kau ini kemana aja sih?” jelas Harlan.

“Apa?!” tanya Nanda dengan nada kaget.

“Tenang. Kuis hari ini tidak jadi. Bu Novri ke kelas hanya untuk memberi tahu itu.” Harlan tersenyum licik sambil menjitak kepala Nanda.

Tanpa diperintah, Nanda yang sudah terlihat lemas karena kehilangan semua tenaga terakhirnya langsung memasang wajah cemberut. Harlan hanya tertawa-tawa sendirian melihat kelakuan Nanda yang belakangan dianggapnya sebagai adik ini. Nanda dan Harlan baru bertemu pada saat pembagian kelas pertama kali, setelah OSPEK. Dua orang ini berasal dari daerah yang berbeda. Nanda yang asli orang Bandung, dan Harlan yang merupakan mahasiswa perantauan dari Bakauheni, Lampung. Keduanya memang terlihat begitu akrab, walaupun baru beberapa bulan saja mereka bersama.

“Oh iya, Ka.” Kata Nanda mengawali pembicaraan.

“Tiga hari yang lalu, aku dapat kenalan baru lewat SMS. Perempuan, Ka. Namanya Almaya, anak SMA 5.” kata Nanda sembari menyodorkan handphone-nya dan memperlihatkan pesan-pesan dari Aya.

“Emh, gatau juga ya. Kakak tidak kenal nomor itu. Mungkin cuma orang iseng.” Jawab Harlan singkat.

“Yang jadi masalah, anak itu tahu betul soalku, Ka. Ciri-ciri, sekolahku waktu SMA, sampai kebiasaan-kebiasaanku. Seolah-olah, dia itu cenayang Ki Joko Bodo yang tahu segalanya.” Nanda menjelaskan dengan menggebu-gebu.

“Tapi, ada satu hal yang aku heran.” Nanda terdiam sejenak.

“Apa?” tanya Harlan.

“Gaya SMS-nya itu mirip sekali denganmu, Ka. Tadinya aku fikir dia itu kakak yang berpura-pura menjadi perempuan untuk mengerjaiku karena aku masih jomblo. Tapi, aku rasa bukan. Entah kenapa, walaupun belum melihat seperti apa orangnya, aku sudah mulai tertarik padanya, Ka.”

Harlan bergeming, dan kemudian meninggalkan Nanda yang sepertinya asyik membayangkan sesuatu.

“Woi! Mau ikut ke kantin ga?!” ajak Harlan pada Nanda.

Nanda tersadar dan langsung berlari mengejar Harlan.

“Oh iya. Ada lagi, Ka. Katanya, Aya minta nomor HP Kakak. Secara tidak sengaja, aku menceritakan soal kakak padanya dan ia sepertinya tertarik sama kakak.” Kata Nanda.

“Kasih, dah.” Jawab Harlan dengan sedikit bercanda, menirukan gaya jargon sebuah kartu seluler ternama.

Dan mereka pun terlarut dalam obrolan-obrolan ringan di sepanjang jalan menuju kantin.

Sore menjelang. Nanda masih sibuk termenung di tangga kecil menuju Lantai DNA, sebuah tempat lapang berlantai yang polanya mirip rantai protein penyusun kromosom manusia itu, berbelit-belit. Harlan yang biasa menemaninya sudah pulang sejak jam 3 tadi, sehingga Nanda kini hanya sendirian.

Jam di tangan kiri Nanda menunjukkan tepat pukul 16.06 saat lagu Not with Me kembali teralun dari speaker kecil handphone-nya.

From: Almaya Ariani
Kak Nanda... Kakak sudah pulang?

Wajah Nanda yang semula agak kusam, perlahan-lahan menyemburatkan senyum khasnya. Secepat kilat ia membalas pesan itu. Dan beberapa menit berlalu, ia sudah dimanjakan dengan canda-canda ringan bersama teman imaginer barunya itu.

Lepas maghrib, Nanda baru beranjak dari tempat ia termenung sejak sore tadi. Seorang dosen yang baru selesai memberi kuliah sore menyadarkan bahwa hari mulai beranjak malam. Pak Oki Neswan, dosen Geometri itu memang sudah lama kenal dengan Nanda dan bahkan beliau adalah tetangga yang baik bagi keluarga Nanda. Beliau menawari Nanda yang sedang berjalan menuju tempat parkir untuk pulang bersamanya. Tapi dengan halus Nanda menolak. Nanda pun beranjak pulang dengan menenteng sepedanya menyusuri Jalan Tamansari yang masih tetap ramai meski pekat malam mulai menelan gemerlap mega di ujung barat sana. Perlahan bayangan Nanda mulai menghilang, disembunyikan rindangnya pepohonan besar di sepanjang kiri dan kanan jalan.

Pukul 21.37, Nanda baru saja mengakhiri obrolan pesan singkatnya dengan Aya. Dari semenjak sore tadi, Aya dengan setia menjadi teman sharing seorang Nanda. Kali ini Aya bukan lagi menjadi Ki Joko Bodo, tetapi ia telah menjelma menjadi seorang Mike Rose, peramal cinta. Selama lebih kurang 3 jam itu, Nanda dengan nyaman menceritakan semua hal yang selama ini menjadi rahasia pribadinya. Entah kenapa, ia merasa telah mengenal Aya lama sehingga ia tidak sungkan membeberkan fakta-fakta hitamnya. Sebuah ucapan selamat tidur, menamatkan obrolan seru-sendu mereka malam itu. Dan Nanda kembali termenung sendirian di sudut kamar pink-nya.

Lantunan lagu Not with Me kembali bergaung di seantero kamar berukuran 3 m x 3 m berpintu kayu mahoni bercat kuning itu. Ada pesan masuk di inbox handphone-nya.

From: FMIPA.Harlan
De, tmenin ka2 malem ini ya...
Ka2 gabisa tdur nih... ):

Sebuah balasan diplomatis diberikan Nanda. Nanda mengiyakan ajakan Harlan, dan meyuruh Harlan menentukan topik pembicaraan karena Nanda paling sulit untuk menentukan topik obrolan jika bukan orang lain yang memulai. Tapi kalau sudah mulai membicarakan sesuatu, ia bisa membahasnya sampai tidak kenal waktu. Pernah suatu hari, ia mengobrol lewat pesan singkat dengan seorang teman sekelasnya dari jam 8 pagi sampai jam 12 malam non stop. Entah apa yang mereka bicarakan.

Beberapa menit kemudian, sebaris kalimat “1 Message Recieved” terpampang di layar bening handphone Nanda. Balasan dari Harlan.

From: FMIPA.Harlan
Kmu yg tentuin topiknya...
Ka2 gabisa mikir...

Kulit dahi Nanda mengerut. Bukankah Harlan sudah tahu kalau Nanda tidak suka memulai pembicaraan sebelum ada yang memulainya. Nanda pun mengirimkan balasan dengan nada kesal. Ada sedikit ancaman dalam pesannya itu. Jika tidak ada topik sampai pesan ke-3, Nanda tidak akan melanjutkan obrolannya. Dan sampai pesan yang ke-3, Harlan hanya menjawab “gatau :(“, dan itu membuat Nanda muntab. Ia tidak menghiraukan pesan-pesan yang selanjutnya mampir di inbox, dan bergegas menelungkupkan kepalanya dalam dekapan sebuah bantal kapuk. Suasana malam hari yang sunyi dengan dingin yang menusuk membuatnya langsung terlelap dalam buaian peri mimpi yang kali ini datang lebih awal menghantarkan sukmanya ke negeri khayal.

Beranjak pada sebuah sore yang aneh dibayangi awan mendung langit Bandung yang siap memuntahkan tetesan tentara-tentara surga ke bumi. Dua orang itu kini berdiri berhadapan satu sama lain. Salah seorang dari mereka sejak awal hanya menunduk, tidak kuasa memandang lawan bicaranya yang sedari tadi meracau mengeluarkan semua kekesalan padanya. Ya, Harlan seolah-olah tengah menjadi terdakwa yang menanti vonis majelis hakim di Mahkamah Agung. Dia tak kuasa melakukan banding lagi, karena ini adalah pengadilan terakhirnya. Dan sang hakim, tidak lain adalah teman baik sekaligus seseorang yang belakangan ia panggil adik, Nanda. Wajah ceria yang selama ini Nanda tunjukkan bila ia berhadapan dengan Harlan seolah-olah menguap seiring kekesalannya yang sudah mencapai klimaks. Jaket hitam yang menjadi favorit masih setia bersanding dengan kemeja hitam bergaris putih 1 milimeter, saat langkah gontai Nanda mendekati tubuh tinggi Harlan. Di tempat itu, di lantai DNA keduanya saling beradu pandang. Perasaan dibohongi itu masih membayangi benak Nanda. Seseorang yang selama ini menjadi teman setia, sekaligus kakak baginya telah dengan tega melakukan suatu kebohongan yang teramat pedih. Seakan-akan, Harlan telah menohok Nanda dari belakang saat ia tertidur. Halus, tak terlihat.

Pagi tadi, keduanya bertemu di tempat yang sama seperti saat ini. Nanda yang baru saja tiba, mendapati Harlan tengah duduk terdiam di pojok anak tangga ke-3, sendirian saja. Tempat favorit Nanda itu kini juga menjadi tempat kesukaan Harlan, entah kenapa semenjak 2 hari yang lalu Nanda kerap kali melihat Harlan duduk termenung di situ. Pagi begitu cerah, matahari bersinar di posisi terbaiknya. Tetapi indahnya pagi itu agak sedikit ternodai oleh wajah murung Harlan yang menggoda Nanda untuk menghampirinya. Mereka mengobrol sesaat. Nanda dengan wajah ceria dan senyum khasnya hanya ditanggapi dingin oleh Harlan. Beberapa menit, keadaan hening. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang berbicara. Sampai harmoni lagu Not with Me dari Handphone Nanda memecah kesenyapan pagi yang hangat itu.

From: Almaya Ariani
Ka’Nanda... Ka2 lg ngapain?

Wajah Nanda menandakan ada sesuatu yang janggal dari pesan Aya itu. Aya masih bersekolah di SMA kelas 11, dan ini masih jam 8.30 pagi, belum waktunya istirahat. Tidak mungkin ia berani mencuri-curi waktu hanya untuk menanyakan pertanyaan ringan itu pada Nanda. Sebuah pertanyaan dilontarkan Nanda melalui pesan balasannya. “Lg duduk2 aja... Kmu si? Ga sekolah, tah?”

Beberapa detik kemudian sebuah pesan kembali masuk ke inbox handphone Nanda. Jelas itu dari Aya. Ada keragu-raguan dalam hati Nanda untuk membuka pesan itu. Entah kenapa, feeling-nya mengatakan ada sesuatu. Dengan perlahan dan hati-hati, ia baca pesan dari teman imginer-nya itu, selayaknya Beethoven melantunkan Schrezo melalui dentingan tuts-tuts pianonya.

Sejenak ia tersenyum, menundukkan kepala seperti murid SD yang sedang mengheningkan cipta. Tapi, itu bukan senyum cerianya seperti biasa. Sesuatu terjadi.

From: Almaya Ariani
Ga...
Ka, aku ada di arah jam 3...
--V

Itulah sebuah pesan singkat yang mungkin akan menjadi pesan terakhir yang diterima Nanda dari Aya. Karena selang beberapa detik setelah itu, ia merasa menyesal telah membaca pesan tadi. Dengan hati gemetar, ia berusaha memalingkan wajahnya ke arah kanan, arah jam 3 darinya. Ia hanya menghela nafas pajang saat yang ia dapati adalah sesosok makhluk yang oleh orang-orang Amerika Latin sana disebut Andros, laki-laki. Aya, Almaya Ariani teman imaginer-nya, perempuan yang mulai menarik perhatiannya tanpa pernah bertemu, teman curahan hatinya selama satu minggu ini, ternyata Harlan, Miftah Harlan Chaliftullah. Tubuh kurus Nanda membeku mendapati kenyataan pedih itu. Teramat sangat pedih, dan mungkin akan menorehkan luka yang begitu dalam di hati kecilnya. Dan pelakunya tidak lain, Harlan.

Sore ini, semenjak kejadian pagi tadi Nanda yang mulai menampakkan kembali senyumannya mengajak Harlan ke tempat itu lagi, lantai DNA. Nanda mengoceh, Harlan terdiam. Setidaknya, itulah yang terjadi semenjak 15 menit yang lalu.

“Ka, aku minta tolong sebagai adikmu. Tolong jangan lakukan hal yang sama pada orang lain. Cukup aku korban terakhirmu. Seorang lonely yang terlalu berharap lebih.” kata Nanda dengan suara yang mendadak berubah, parau. Harlan tetap terdiam.

“Aku masih punya satu permintaan padamu, Ka. Boleh?” tanya Nanda.

“Apa?” jawab Harlan dengan wajahnya yang masih tertunduk ke lantai keramik berpola berpigmen merah, biru, dan putih itu.

“Sedari tadi, aku ingin sekali melontarkan tinjuku ini ke wajahmu. Boleh kan?” pinta Nanda sembari tersenyum, tetapi dengan sorot mata yang tajam sambil mengepalkan kelima jari tangan kanannya.

“Boleh! Silahkan lakukan yang ingin kamu lakukan! Silahkan! Aku memang bersalah!” tantang Harlan sambil menyodorkan wajahnya ke arah Nanda.

“Boleh, ya.” Nanda mempertegas. Raut wajah cerianya tadi kini berubah menjadi raut wajah dingin seorang algojo yang siap melepaskan tali pengikat kapak pada sebuah Pendulum Machine.

Beberapa sekon berselang, suara desah nafas Harlan tertahan. Matanya yang sedari tadi terpejam perlahan terbuka. Lima belas ruas jari itu mengepal tepat di depan wajah piasnya. Nanda tidak benar-benar memukul wajah Harlan. Dia menghentikan laju kepalan tangan kanannya tepat di sepersekian milimeter di depan wajah Harlan. Perlahan, senyum tersungging di bibir merah-keunguan Nanda. Tangannya yang tadi mengepal, sedikit demi sedikit mulai melunak. Ia tepuk bahu kiri sahabat sekaligus kakaknya itu dengan agak bercanda, dan tetap dengan sedikit tawa riang ciri khas seorang Nanda Mahayana.

“Terima Kasih ya, Kak.” ucap Nanda pada Harlan. “Aku sudah tahu sejak awal kok kalau Aya itu kakak. Jadi, ya tidak apa-apa. Sekali lagi, terima kasih.”

“Ayo kita pulang! Yang tadi lupakan saja, jangan difikirkan. Ok!”

Selendang keemasan lembayung senja di langit Bandung sebelah barat menjadi view yang menghantarkan keduanya saat beranjak pulang. Nanda dan Harlan. Kilau lantai DNA yang menjadi saksi bisu sebuah drama kehidupan kedua individu tadi kini memudar, membiaskan sinar matahari yang perlahan meredup seiring kepak sayap burung-burung gereja yang mulai kembali ke sarangnya. Bergegas terbang, mencoba menutup hari itu untuk menjelang surya indah esok pagi. (NM)

Hitam Putih #2


HITAM PUTIH
by : eNOErReM ‘11



Sudah lewat purnama ke-39 sejak ibuku meninggalkan aku, ayahku dan seorang adik laki-laki kecilku di gubuk tua warisan ini. Malam itu, malam terakhir kali kami melihat tangisannya. Tangisan sesosok wanita tegar yang telah dengan setia menemani hari-hariku selama 9 tahun terakhir. Sesosok wanita yang dengan teramat sangat berat meninggalkan kami sambil menyeret kopor butut pemberiaan pamanku itu. Sesosok wanita yang rela berjauhan dengan kami, buah hati tercintanya hanya untuk mempertaruhkan nasib menghidupi keluarga dari negeri minyak sana. Dia adalah ibuku, ibu terbaik dalam hidupku. Orang yang pertama kali kulihat saat terbangun dari mimpi burukku, orang terakhir yang kulihat saat ku hendak memejamkan mata memasuki dunia imajiku. Yang tak pernah lupa mendengungkan shalawat untuk sekadar menidurkanku dan Lana, adikku saat kami kecil dulu.

Maulana Yusuf, adikku akan berusia 5 tahun 3 hari lagi, sementara aku baru duduk di kelas 7 SMP. Itu berarti, umurku baru menginjak tahun ke-12. Setiap malam sejak sebulan lalu, kami berdua selalu kompak terduduk di teras depan rumah kami, memandang jauh ke arah ujung jalan sana, berharap ada langkah perindu yang bergegas menuju ke arah kami sambil melepaskan pegangan dari kopor-kopornya. Ya, kami berdua tengah menanti kedatangan ibu kami yang kemungkinan akan tiba bulan-bulan ini. Tapi, sudah berhari-hari kami menunggu tanpa ada kabar. Ayah kami pun hanya bungkam tiap kali kami menanyakan pertanyaan kapan ibu pulang. Mungkin ia sudah bosan dengan pertanyaan-pertanyan yang sama yang kami lontarkan selama sebulan ini. Dan belakangan, aku pun mengerti. Hanya Lana yang tetap terus mengoceh dan berulangkali hanya ditanggapi dingin oleh ayah.

Semenjak telepon terakhir dari ibu pada awal Januari lalu, tiba-tiba ayah menjadi pemurung. Entah apa yang terjadi. Aku pun tidak tahu apa yang ibu dan ayah bicarakan melalui telepon singkat 4 menit itu. Beliau hanya mengatakan, ibu akan pulang dan setelah itu gairah hidupnya mulai meluntur. Ayah yang selalu senang dan berbunga-bunga ketika selesai menerima telepon dari ibu, kini hanya terdiam. Tatapannya kosong, seperti tengah tidak berada di tempatnya. Bukankah seharusnya beliau bahagia, karena ibu akan pulang setelah hampir 3 tahun mengadu nasib di tanah nabi. Aku pun tidak tahu kenapa.

Bayang-bayang pertemuan dengan ibu kami tercinta perlahan mulai memudar seiring telah berlalunya hari demi hari tanpa kabar berita, bahkan hanya sekadar kabar telepon pun tidak ada. Besok, adalah tepat hari ulangtahun ke-13 ku. Semoga ibu telah merencanakan untuk pulang esok hari, memberikan kejutan terindah di hari bahagiaku besok. Aku sudah tidak sabar. Terakhir kali saat ulangtahunku, ibu memberikan kejutan dengan membelikanku sebuah pulpen hijau yang terbungkus dalam lembaran kertas koran usang. Dan aku teramat bahagia saat itu, bukan karena hadiahnya. Karena memang hadiah itu tidak begitu seberapa dibandingkan perhatian ibuku itu. Sampai sekarang, pulpen ini masih kusimpan dengan baik di atas meja belajarku tanpa pernah sekalipun kugunakan.

Selepas menidurkan Lana, aku kembali bangkit dari ranjang reotku. Ketika ku hendak mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat ‘isya, samar-samar kudengar suara ayahku tengah bertelepon dengan seseorang. Nada bicaranya serius dan agak khawatir. Sedikit kukuping pembicaraan mereka yang walaupun tidak begitu jelas, tapi ada satu kata yang kudengar yang membuatku sumringah. “Besok”. Mungkin itu maksudnya adalah kepulangan ibu, dan yang ada di balik telepon itu adalah ibu. Dengan perasaan senang bercampur rindu segera kuberlari menuju belakang rumah dan memopakan air untukku berwudhu dan bersegera menunaikan shalat ‘isya.

Tepat tanggal 26 Desember 2004, tepat saat hari ulangtahunku yang ke-13, ibu benar-benar pulang. Ternyata perkataan ayah di telepon semalam memang benar adanya. Tapi, tidak ada rasa senang seperti yang kurasakan semalam. Bayangan kejutan ulangtahun terbaik itu telah hilang. Kupeluk erat tubuh kecil Lana, adikku satu-satunya. Kucoba menahan tangis saat 6 orang laki-laki tetanggaku itu menurunkan sebuah kotak kayu cendana yang ditutupi kain berwarna putih. Kucoba menahan tangisku, tapi sebagai seorang perempuan, aku tidak sanggup menerima kenyataan ini. Ini bukan hari ulangtahun terbaikku, tetapi hari ulangtahun terkelamku sampai saat ini. Ibuku telah pulang, bukan hanya sekadar pulang ke bumi kelahirannya, tetapi juga pulang keharibaan sang penguasa hidup. Ya, ibuku telah meninggal dalam perjuangannya menghidupi keluarga kami dari negeri orang. Ayah menghampiriku, berusaha menghapus air mataku yang secara tidak sadar telah membanjiri kedua pipiku. Beliau memelukku dan Lana sambil tak kuasa menahan air mata dari pelupuk matanya.

Sebenarnya, ayah sudah mengetahui kabar duka ini sejak telepon terakhir dari ibuku dulu. Rupanya, itu adalah kata-kata perpisahan ibuku untuk ayah. Ayah tidak berani mengatakan kabar itu kepada kami. Ibuku didakwa telah dengan sengaja membunuh majikannya, dan ia dijatuhi hukuman mati. Ayah sengaja merahasiakannya agar kami tidak merasa begitu bersedih, karena ia tahu kami begitu merindukan sosok ibu kami. Tapi justru, ketika jasad ibuku yang sudah tak bernyawa lagi kini tiba-tiba ada di hadapanku, aku semakin terpukul. Seolah-olah, matahri di langit sana menimpaku, telak. Sampai-sampai aku tidak bisa bernafas, sesak.

Untuk terakhir kalinya, aku ingin melihat wajah ibuku tapi ayah melarangnya. Itu akan membuatku semakin bersedih, dan Lana yang belum mengerti apa-apa juga akan terkena imbasnya. Akhirnya, sembari membawa selembar foto ibuku, kuhantarkan ia menuju peristirahatan terakhirnya. Tanpa mampu menopang berat tubuhku, aku terkulai lemas di samping pusara ibuku. Semuanya gelap. Aku tak sadarkan diri.

Sepertinya lama sekali aku pingsan, sampai tengah malam aku baru bisa membuka mataku. Kudapati kerumunan orang tengah melantunkan ayat-ayat surat Yaasiin di ruang depan rumahku, pun begitu dengan ayahku yang tengah mendekap erat Lana yang sedang tertidur. Air mataku meleleh, mencoba menerjemahkan keadaan ini. Aku tak kuasa, aku berlari menerobos kerumunan orang yang tengah duduk bersila. Semua terperanjat dan berusaha mengejarku, tapi ayah menghentikan mereka. Ayah membiarkanku.

Aku berlari dan terus berlari tanpa henti, hingga sampai pada sebuah persimpangan. Di tempat inilah terakhir kali kulihat wajah ibuku. Aku merindukannya, aku rindu ada dalam dekapannya, ibu. Aku terduduk bersimpuh di jalanan tanah lempung. Ku terdiam, sendiri menengadahkan wajahku pada kemintang yang gemerlap. Berbicara pada mereka dan berteriak pada Tuhan. Hanya untaian doa yang bisa kupanjatkan pada sang maha tahu, semoga itu bisa menghantarkan jiwa suci ibuku pada tempat yag terbaik di sisi-Nya, di singgsana surga. Amin. (NM)

Mimpiku, Sebuah Kenyataan



hai, mimpiku...
asa tertinggi hidupku...
pelangi...
yang memberi warna-warni di hariku...
lagu...
yang memberi irama di langkahku...

saat ini...
detik ini juga...
izinkan aku, mengakhiri semua ini...

mengakhiri semua impianku...
mengakhiri daya hidupmu...
untuk selamanya...

mimpiku...
kini...

kau bukan lagi selayaknya sebuah definsi...
yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya...
tetapi...
kau adalah selayaknya sebuah hukum...
yang benar, karena pembuktian...

mimpiku...

kau bukan lagi selayaknya grafik tangensial...
yang tak mengenal awal dan akhir...
tetapi...
kau adalah selayaknya ruas garis...
berujung, dan berpangkal...

mimpiku...

kau bukan lagi cerminan egoismeku...
yang tak mengindahkan mereka di sekelilingku...
tetapi...
kau adalah cerminan kalian...
tujuan hidupku...

mimpiku...

kau bukan lagi layaknya sekotak permen coklat...
yang penuh misteri...
tetapi...
kau adalah selayaknya gula-gula kapas...
yang sudah jelas rasa manisnya...

mimpiku...

kau tidaklah lagi sekosong dulu...
hampa...
tetapi...
kini kau telah nyaris terisi penuh...
kebahagiaan...

mimpiku...

kau bukan lagi sebuah paradoks...
tak jelas kebenaran dan kesalahannya...
tetapi...
kau adalah pernyataan...
salah, benar, semuanya pasti...

mimpiku...

kau bukan lagi sebatas tentang mereka...
dia dia dan kau...
tetapi...
kau adalah tentang aku, kau, dia, kalian, dan mereka...
kita...

mimpiku...

kau bukan lagi probabilitas bernilai 0,5...
ketidakpastian...
tetapi...
kau adalah probabilitas bernilai 1...
kau itu benar...

mimpiku...

kau bukan lagi hanya sekadar imajinasi...
tak nyata...
tetapi...
kau adalah realitas...
fakta...

mimpiku...

kau bukan lagi sebatas serpihan...
yang terserak...
tetapi...
kau adalah sebuah gambar utuh...
satu kesatuan...

mimpiku...

kau tidak hanya sekedar doa...
pengharapan...
tetapi...
kau adalah dunia nyata...
realisasi doa...

mimpiku...

kau tak lagi hanya sebatas asa...
melayang...
tetapi...
kau adalah sebuah kepastian...
tetap...

mimpiku...

kini kau bukan sekadar mimpi...

kini...

kau telah menjelma...
menjadi sebuah kenyataan...
indah...
dalam akhir hidupku...

terima kasih, kau telah temaniku...
selama ini...
terima kasih...
dan semoga kita bisa bertemu...
di kehidupan yang lain...

dan tetaplah...

kau menjadi mimpiku...

selalu...

dan, selamanya...

-dyingmessage-

"ini adalah catatan terakhir mimpiku... catatan mimpi no.13... dan merupakan catatan no.33 dari seluruh catatanku. semoga setelah ini, semuanya memang menjadi nyata. dan aku kan tenang menata kehidupan di sana. kelak."

Saturday, February 19, 2011 at 12:17am

Friday, February 18, 2011

Share: Pepatah???

Berikut ini beberapa pepatah yang laku di negara kita:

"Sedia payung sebelum hujan".
Pepatah ini laku di negara kita, karena buktinya orang-orang lebih suka menyiapkan payung daripada menyiapkan cangkul ketika akan hujan. Padahal orang Jepang menyiapkan cangkul ketika akan hujan. Makanya tidak usah heran jika di negara kita selalu terjadi banjir setelah turun hujan. Ternyata pikiran kita lebih pendek daripada pikiran orang Jepang.

"Kalau orangtua bicara, dengarkan".
Pepatah ini laku karena anak-anak muda di negara kita, lebih suka mendengarkan apa yang dikatakan orangtua, daripada menyelesaikan pekerjaannya.

Sedangkan untuk peribahasa dan pepatah yang tidak laku yaitu:

"Sedikit bicara banyak bekerja".
Pepatah ini tidak laku, karena memang orang-orang di negara kita lebih banyak bicara daripada bekerja. Buktinya di olahraga sepakbola saja, bangsa kita lebih banyak melahirkan komentator sepakbola, daripada pemain sepakbolanya.
Kalau anda tidak setuju, berarti anda orang Indonesia.


(Dikutip dari Rubrik "Sintreuk", Majalah Idealisme Universitas Kuningan Nomor 06 / Desember 2010)

Hai, Ulat



Hai, ulat...
Sedang apakah kau di sana?
Menyembunyikan dirimu...
di balik rimbun dedaunan...

...Lihatlah...
...Sang mentari telah menampakkan dirinya...
...mengirimkan paket-paket foton...
...untuk setiap jengkal kehidupan...

...Hai, ulat
...Resapilah
...alunan simfoni burung gereja
...membawakan lagu-lagu ceria
...menyemangatimu

Ayolah...
tampakkan dirimu pada dunia...
walau rupamu tak secantik kupu-kupu...
tapi percayalah...
kau tetap punya pesona...
karena kau...
selayaknya sang kupu-kupu...
dengan keindahan yang tersembunyi...

...Hai, ulat...
...bergegaslah...
...percepat langkah kecilmu...
...yakinkan, inilah harimu...
...karena kau akan menjadi sang kupu-kupu...
...kupu-kupu terindah...

...Ayolah, ulat
...karena inilah waktunya
...saatnya kau tunjukkan pada dunia
...keindahanmu itu
...karena kau selayaknya sang kupu-kupu
...kupu-kupu terindah
...dengan pesonamu
...yang takkan pernah tergantikan
...meski waktu menelan zaman



(Dibuat pada 11/01/11 pukul 00:29, untuk orang ini)

Thursday, February 17, 2011

Lihatlah



Lihatlah...
Mentari itu t'lah bersinar...
menghantarkan nafas-nafas kehidupan...
untuk jiwa-jiwa yang baru...

Lihatlah...
Angin itu t'lah berhembus...
membisikkan harmoni-harmoni rasa...
untuk jiwa-jiwa yang baru...

Lihatlah...
Dedaunan itu t'lah melambai...
membawakan jutaan asa...
untuk jiwa-jiwa yang baru...

Lihatlah...
Awan itu t'lah bergumul...
memberikan naungan damai...
untuk jiwa-jiwa yang baru...

Lihatlah...
Langit itu t'lah terhampar...
membebaskan rasa indah...
untuk jiwa-jiwa yang baru...

Lihatlah...
Ini dirimu...

Lihatlah...
Ini jalanmu...

Lihatlah...
Karena dirimulah dirimu...

Dirimu...
dengan jiwa yang baru...

(Dibuat di Pojok Lantai 2 Kampus 2 Unswagati, pada 15/01/2011 pukul 08:28, untuk orang ini)

Share: Aku adalah Kebiasaan by Brian Tracy

Siapakah aku??

Aku adalah teman tetapmu
Aku adalah penolongmu yg terbesar
Atau bebanmu yg terberat.
Aku akan mendorongmu maju atau menyeretmu menuju kegagalan.
Aku sepenuhnya tunduk kepada perintahmu.
Sebagian hal yg kulakukan mungkin sebaiknya kamu serahkan saja kepadaku, maka aku akan dapat melakukannya dengan cepat dan tepat.

Aku mudah diatur.
Kamu tinggal tegas terhadapku.
Tunjukkanlah kepadaku, bagaimana persisnya kamu ingin sesuatu itu dilaksanakan dan setelah beberapa kali belajar aku akan melakukannya dengan otomatis.
Aku adalah hamba dari semua insan besar, dan sayangnya,juga hamba dari semua pecundang.
Mereka yg besar, telah kujadikan besar.
Mereka yg gagal, telah kujadikan pecundang.

Aku bukan mesin, walaupun aku bekerja dengan ketepatan seperti mesin ditambah intelijensi manusia.
Kamu bisa menjalankan aku demi keuntungan atau demi kehancuran.
Tak ada bedanya bagiku.

Ambillah aku, latihlah aku, tegaslah terhadapku, maka aku akan meletakkan dunia di kakimu.
Kendorlah terhadapku maka aku akan menghancurkanmu.
Siapakah Aku??
AKU ADALAH KEBIASAAN

(Direkomendasikan oleh Astri Fitria Nur'ani, hasil coppas dari sini)

Share: Kata-kata Bijak by ihatequotes™

No need to be popular to win someone’s heart. Be yourself! Because in someone’s eyes you’re already special.

We meet someone by chance, but loving and staying with that someone is a choice.

Work smart but trust God. It's not the big sail on the boat that pushes you along, its the unseen wind!

Sometimes the best memories are sad, because you know they will never happen again.

I promise that there will be a day, when I won't be waiting for you to fall in love with me.

The key to success is not so much knowing you're right. But, never fearing to be wrong. Take risks and have courage!

Good people attract Good people. Ask yourself: "What part of me keeps attracting the wrong people?"

The biggest mistake in love occurs when one loves another more than he loves himself.

Learning can be painful, but remaining the same isn't an option. Growth takes WORK!

An "I Miss You" would only be worth if there's an "I Miss You Too" in return.

Being on top of the world doesn't mean anything unless you know what it's like to be at the bottom.

To keep your life moving in the right direction, keep your thoughts moving in the right direction.

Sometimes we let affection go unspoken and our love go unexpressed. Especially towards those we love the best.

It's easy to want something more. It's harder to enjoy what you have.

Bless those that curse you. Be good to those who hate you and pray for those who wrongfully use you.

Never show too much love to anyone. Because sometimes, it creates a a non-curable pain when they start avoiding you.

Know God, Know Peace. No God, No Peace.

Nothing is more amazing than doing something people said can't be done. Get up and do it!

In love relationship, the worst thing to do is holding on to someone who doesn't wanna be held on to.

People think holding on to difficult mates or jobs makes them strong, but often times, letting go that shows how strong you're!

A true friend = someone who knows all your weakness, but still loves you the way you are.

BOYS = get and forget. GIRLS = give and forgive.

If you have a chance to love, then do it. Remember: "Love makes time pass, but too much time will let love pass!"

Don't choose the one who is beautiful to the world. But rather, choose the one who makes your world beautiful.

Loving is like caring for a garden: love it too much/too little, it dies. Love it just right and it will live forever.

When you love people more than they deserved, you end up hurting more than you deserve.

Life is not a chess game! No one will tell me when its my turn to make a move!

My back is not a voicemail. If you want to say something, say it to my face!

A true leader can master leading themselves. Set your priority, give orders to yourself! Learn backward, step forward!

Remember, to the world you might just be one person, but to one person you might just be the world!

You may not know your path, but you must know what you don't want in life

Don't depend on anyone in this world. Because even your shadow leaves you when you're in darkness.

I create postive experiences for myself and all the people I share moments with.

No matter what happens in life, be good to people. Being good to people is a wonderful legacy to leave behind.

A man who can't handle me at my worst doesn't deserve me at me best.

We are stronger when we listen, and smarter when we share.

The real lover is the man who can thrill you by kissing your forehead or smiling into your eyes.

Loved you once, love you still. Always have, always will.

My HATERS = My BIGGEST FANS!

Friends = BLANKETS. They give warmth when everything else turns cold. I ♥ my Friends!

You may be deceived if you trust too much, but you'll definitely be tormented if you don't trust enough. Be wise!

Love is when you still want to trust, even you've been hurts.

Life is too beautiful to waste it with doubt. Face it with FAITH and live it with LOVE!

The moment when you feel like giving up is actually a test of perseverance. Keep going and never give up!

(Hasil coppas dari sini)

Share: Kata-kata Bijak by Indonesia Bercerita

Never work before breakfast; if you have to work before breakfast, eat your breakfast first. - Josh Billings -

You have to have a dream so you can get up in the morning - Billy Wilder -

Be pleasant until ten o'clock in the morning and the rest of the day will take care of itse - Elbert Hubbard -

Lose an hour in the morning, and you will be all day hunting for it - Richard Whately -

With each sunrise, we start anew - Anonymous -

We are new every day - Irene Claremont de Castillego -

Even if a farmer intends to loaf, he gets up in time to get an early start - Edgar Watson Howe -

(Hasil coppas dari sini)

Black Febuary

1 detik di mula...
kau nyaris buatku menangis...
1 menit di mula...
kau nyaris buatku merintih...
1 jam di mula...
kau nyaris buatku meratap...
1 hari di mula...
kau nyaris buatku merana...
1 minggu di mula...
kau nyaris buatku gila...

bagaimana dengan 1 bulan???

Distance by SecondHand Serenade

I’m driving down the highway
Cold and dark, dead
(It’s deceiving)
It’s deceiving
And miles and miles pass by
And I’m alone
My eyes feel like they’re bleeding

But I’m just crying

Is this what I ask for?
Is this what I ask for

I hate myself when I’m away from you
I swear I’m sorry
Please don’t hate me too
And I don’t know if my heart will make It through
I swear I’m sorry
Please don’t hate me too

I don’t suppose you heard me
Call your name, girl
If you say louder,
Then I’ll scream louder
The cities in between us block the way
They make it harder
But I’ll scream louder

Is this what I ask for?
Is this what I ask for?

I hate myself when I’m away from you
I swear I’m sorry
Please don’t hate me too
And I don’t know if my heart will make
It through
I swear I’m sorry
Please don’t hate me too

(Don’t hate me)
Don’t fail now
Hold on to hope
Cause I’m yours
I’m coming home to you soon
(I’m coming home)
Cause the road is very worn
And It’s begging me to come back
(To You)

I hate myself when I’m away from you
I swear I’m sorry
(I’m sorry)
Please don’t hate me too
(I’m coming home)
Don’t hate me too
Please don’t hate me too

[Download lagunya di sini]

Wednesday, February 16, 2011

Mimpiku, Asa Percepatan Nol

"roda-roda kehidupan, berputar...
menyibakkan debu-debu jalanan...
menghempaskan kerikil-kerikil ironi, ke udara...
menembus temaram cahaya lampu kota...
menyisakan aura dingin...
dan ketakutan dalam lemah raga ini...
kapankah semuanya akan berakhir?
entahlah...
hanya Dia yang tahu..."

sebait puisi...
yang kuciptakan dalam temaram lampu di dalam kendaraan...
ya, saat dalam perjalanan pulang...
menembus gelap dan dingin...
jalanan berkelok antara Cirebon-Kuningan...

tahukah kau kawan?
kumpulan kata-kata ajaib itu...
merupakan gambaran ketakutanku...
ketakutan yang memang beralasan...
dan itu...
rasional...

iya...
karena pasti semua orang pernah mengalaminya...
atau bahkan...
selalu mengalaminya...

ketakutan, akan...
K.E.M.A.T.I.A.N...

kau pasti tahu, kawan...
nyaris setiap hari...
aku harus berperjalanan...
dari Kuningan-Cirebon pun dari Cirebon-Kuningan...

bukan untuk apa-apa...
tapi...
ini adalah salah satu jalan yang harus kutempuh...
untuk menuju realisasi mimpi-mimpiku...

hampir di setiap hari itu...
ketakutanku semakin menghantui...
meneror otakku...
memberikan gambaran-gambaran "fear" di pelupuk mataku...

heft...
sungguh, aku takut...
takut yang teramat sangat...
sangat sangat takut...

seolah-olah...
setiap kali ku terduduk di bangku kendaraan yang akan membawaku...
maka...
sepersekian mikro detik setelah itu...
Tuhan akan mengambil nyawaku...

menjadi paranoid saat melihat kendaraan menyalip...
saat melihat jurang di sisi jalan...
dan bahkan, saat kendaraan yang kutumpangi...
berhenti secara mendadak...

dan itu...
menjadi pemicu ketakutanku...

aku tidak berbohong...

aku... takut...
M.A.T.I...

terlalu berlebihan?
mungkin iya...

tapi, ada satu alasan...
alasan ketakutanku...

ini semua tentang mimpiku...

salah satu mimpi bodohku...

aku tidak akan pernah bermain-main dengan mimpiku...
jika kukatakan, akan kuwujudkan mimpiku...
maka...
aku akan serta merta berusaha menjadikannya...
menjadi sebuah kenyataan...
secara perlahan...

dan...
perjalanan itu adalah salah satu cara...
kuwujudkan mimpiku...
agar mimpiku semakin dekat dalam pelukku...

jadi, kubilang...
ketakutanku begitu beralasan...
aku tidak mau mati...
sebelum mimpi-mimpiku terwujud...
sebelum semuanya menjadi nyata...

sekarang kau tahu kan, alasannya?

silahkan tertawa...
melihat kebodohanku...
melihat ketakutan berlebihku...

tapi...
ada satu hal yang perlu kau tahui...

sekarang ini...
ketakutanku telah lenyap...
tak ada lagi paranoid yang dulu menggelayutiku...
semuanya sudah kusingkirkan...
hilang...

kau tahu?
tidak ada lagi ketakutan akan kematian itu lagi...

karena...
ada satu hal yang kutanamkan dalam otakku...
walaupun aku harus mati, sebelum mimpi-mimpiku terwujud...
aku bahagia...
karena aku masih bisa berusaha keras...
mewujudkan mimpi-mimpiku...
sebelum kematian menjemputku...
aku bahagia...

dan satu hal lagi...
kematian itu...
justru selalu kutunggu...

aku ingin MATI...
dalam perjalananku...
mewujudkan mimpi-mimpiku...

ingin sekali...

-dyingmessage-

Wednesday, February 16, 2011 at 11:22am

Kisah Sebuah Jam

Penulis : Anonim...

Alkisah, seorang pembuat jam tangan tengah berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.

“Wahai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?”

“Ha?,” kata jam terperanjat, “Sebanyak itu? Mana sanggup saya?”

“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?” tanya si tukang jam.
“Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.

Ya sudah, “Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?”
“Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu !”.
Tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam.
Kalau begitu, “Sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?”

“Satu kali dalam satu detik? Ah..kalau ini mah ringan. Kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias.

Si tukang jam pun tersenyum dan segera merampungkan jam tersebut. Maka, setelah selesai dibuat jam itu pun berdetak satu kali dalam setiap detiknya.
Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali !


Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap mustahil untuk dilakukan sekalipun.

Jangan berkata “tidak” sebelum Anda mencobanya!

(Hasil coppas dari  notes Facebook Bu Trusti Hapsari, S.Si)

Sahabat

sahabat itu seperti bintang...

walau jauh dia tetap bercahaya...

meski kadang menghilang dia tetap ada...

tak mungkin bisa dimiliki...

tapi tak akan bisa dilupakan & selalu ada dalam hati...

menambah semangat walau kadang terlupakan...

(Hasil coppas dari sini)

Share: Mutiara Kata by Khalil Gibran

PERPISAHAN
Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.

KATA TERINDAH
Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata ‘Ibu’, dan panggilan paling indah adalah ‘Ibuku’. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati.

SAHABAT SEJATI
Tidak ada sahabat sejati yang ada hanya kepentingan.

PERSAHABATAN
Persahabatan itu adalah tanggungjawaban yang manis, bukannya peluang.

SULUH HIDUP
Tuhan telah memasang suluh dalam hati kita yang menyinarkan pengetahuan dan keindahan;berdosalah mereka yang mematikan suluh itu dan menguburkannya ke dalam abu.

PENYAIR
Penyair adalah orang yang tidak bahagia, kerana betapa pun tinggi jiwa mereka, mereka tetap diselubungi airmata.

Penyair adalah adunan kegembiraan dan kepedihan dan ketakjuban, dengan sedikit kamus.

Penyair adalah raja yang tak bertakhta, yang duduk di dalam abu istananya dan cuba membangun khayalan daripada abu itu.

Penyair adalah burung yang membawa keajaiban. Dia lari dari kerajaan syurga lalu tiba di dunia ini untuk berkicau semerdu-merdunya dengan suara bergetar. Bila kita tidak memahaminya dengan cinta di hati, dia akan kembali mengepakkan sayapnya lalu terbang kembali ke negeri asalnya.

SUARA KEHIDUPANKU
Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau telinga kehidupanmu; tapi marilah kita cuba saling bicara barangkali kita dapat mengusir kesepian dan tidak merasa jemu.

KEINDAHAN KEHIDUPAN
Keindahan adalah kehidupan itu sendiri saat ia membuka tabir penutup wajahnya. Dan kalian adalah kehidupannya itu, kalianlah cadar itu. Keindahan adalah keabadian yag termangu di depan cermin. Dan kalian; adalah keabadian itu, kalianlah cermin itu.

RUMAH
Rumahmu tak akan menjadi sebuah sangkar, melainkan tiang utama sebuah kapal layar.

PUISI
Puisi bukanlah pendapat yang dinyatakan. Ia adalah lagu yang muncul daripada luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum.

NILAI
Nilai dari seseorang itu di tentukan dari keberaniannya memikul tanggungjawab, mencintai hidup dan pekerjaannya.

PENDERITAAN
Penderitaan yang menyakitkan adalah koyaknya kulit pembungkus kesedaran- seperti pecahnya kulit buah supaya intinya terbuka merekah bagi sinar matahari yang tercurah.

Kalian memiliki takdir kepastian untuk merasakan penderitaan dan kepedihan. Jika hati kalian masih tergetar oleh rasa takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dalam kehidupan, maka pedihnya penderitaan tidak kalah menakjubkan daripada kesenangan.

Banyak di antara yang kalian menderita adalah pilihan kalian sendiri - ubat pahit kehidupan agar manusia sembuh dari luka hati dan penyakit jiwa. Percayalah tabib kehidupan dan teguk habis ramuan pahit itu dengan cekal dan tanpa bicara.

SAHABAT
Sahabat adalah keperluan jiwa yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau subur dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu. Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa memerlukan kedamaian.

SIKAP MANUSIA
Jauhkan aku dari manusia yang tidak mahu menyatakan kebenaran kecuali jika ia berniat menyakiti hati, dan dari manusia yang bersikap baik tapi berniat buruk, dan dari manusia yang mendapatkan penghargaan dengan jalan memperlihatkan kesalahan orang lain.

DUA HATI
Orang yang berjiwa besar memiliki dua hati; satu hati menangis dan yang satu lagi bersabar.

HUTANG KEHIDUPAN
Periksalah buku kenanganmu semalam, dan engkau akan tahu bahwa engkau masih berhutang kepada manusia dan kehidupan.

INSPIRASI
Inspirasi akan selalu bernyanyi; kerana inspirasi tidak pernah menjelaskan.

POHON
Pohon adalah syair yang ditulis bumi pada langit. Kita tebang pohon itu dan menjadikannya kertas, dan di atasnya kita tulis kehampaan kita.

FALSAFAH HIDUP
Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat -keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan . Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta

KERJA
Bekerja dengan rasa cinta, bererti menyatukan diri dengan diri kalian sendiri,dengan diri orang lain dan kepada Tuhan.

Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu ? Bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak.

LAGU GEMBIRA
Alangkah mulianya hati yang sedih tetapi dapat menyanyikan lagu kegembiraan bersama hati-hati yang gembira.

KEBEBASAN
Ada orang mengatakan padaku, “Jika engkau melihat ada hamba tertidur, jangan dibangunkan, barangkali ia sedang bermimpi akan kebebasan.”
Kujawab,”Jika engkau melihat ada hamba tertidur, bangunkan dia dan ajaklah berbicara tentang kebebasan.”

ORANG TERPUJI
Sungguh terpuji orang yang malu bila menerima pujian, dan tetap diam bila tertimpa fitnah.

BERJALAN SEIRINGAN
Aku akan berjalan bersama mereka yang berjalan. Kerana aku tidak akan berdiri diam sebagai penonton yang menyaksikan perarakan berlalu.

DOA
Doa adalah lagu hati yang membimbing ke arah singgahsana Tuhan meskipun ditingkah oleh suara ribuan orang yang sedang meratap.

PENYIKSAAN
Penyiksaan tidak membuat manusia tak bersalah jadi menderita: penindasan pun tak dapat menghancurkan manusia yang berada di pihak Kebenaran: Socrates tersenyum ketika disuruh minum racun, dan Stephen tersenyum ketika dihujani dengan lemparan batu. Yang benar-benar menyakitkan hati ialah kesedaran kita yang menentang penyiksaan dan penindasan itu, dan terasa pedih bila kita mengkhianatinya.

KATA-KATA
Kata-kata tidak mengenal waktu. Kamu harus mengucapkannya atau menuliskannya dengan menyedari akan keabadiannya.

BICARA WANITA
Bila dua orang wanita berbicara, mereka tidak mengatakan apa-apa; tetapi jika seorang saja yang berbicara, dia akan membuka semua tabir kehidupannya.

KESEDARAN
Aku tidak mengetahui kebenaran mutlak. Tetapi aku menyedari kebodohanku itu, dan di situlah terletak kehormatan dan pahalaku.

ILMU DAN AGAMA
Ilmu dan agama itu selalu sepakat, tetapi ilmu dan iman selalu bertengkar.

NILAI BURUK
Alangkah buruknya nilai kasih sayang yang meletakkan batu di satu sisi bangunan dan menghancurkan dinding di sisi lainnya.

MENUAI CINTA
Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan yang mampu membuka fikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.

KEHIDUPAN
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau.

KERJA
Kerja adalah wujud nyata cinta. Bila kita tidak dapat bekerja dengan kecintaan, tapi hanya dengan kebencian, lebih baik tinggalkan pekerjaan itu. Lalu, duduklah di gerbang rumah ibadat dan terimalah derma dari mereka yang bekerja dengan penuh suka cita.

SELAMATKAN AKU
Selamatkan aku dari dia yang tidak mengatakan kebenaran kecuali kalau kebenaran itu menyakiti; dan dari orang yang berperilaku baik tetapi berniat buruk; dan dari dia yang memperoleh nilai dirinya dengan mencela orang lain.

CINTA
Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus.

Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad.

CINTA
Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dakaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.

CINTA
Cinta tidak menyedari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.

CINTA
Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia kerana cinta itu membangkitkan semangat- hukum-hukum kemanusiaan dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.

CINTA
Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang

ATAS NAMA CINTA
Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

CINTA YANG BERLALU
Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi kita lari daripadanya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.

CINTA LELAKI
Setiap lelaki mencintai dua orang perempuan, yang pertama adalah imaginasinya dan yang kedua adalah yang belum dilahirkan.

TAKDIR CINTA
Aku mencintaimu kekasihku, sebelum kita berdekatan, sejak pertama kulihat engkau.

Aku tahu ini adalah takdir. Kita akan selalu bersama dan tidak akan ada yang memisahkan kita.

CINTA PERTAMA
Setiap orang muda pasti teringat cinta pertamanya dan mencuba menangkap kembali hari-hari asing itu, yang kenangannya mengubah perasaan direlung hatinya dan membuatnya begitu bahagia di sebalik, kepahitan yang penuh misteri.

LAFAZ CINTA
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

LAFAZ CINTA
Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, kerana kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan.

KALIMAH CINTA
Apa yang telah kucintai laksana seorang anak yang tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya

CINTA DAN AIRMATA
Cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah sentiasa.

WANITA
Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan.

BANGSA
Manusia terbahagi dalam bangsa, negara dan segala perbatasan. Tanah airku adalah alam semesta. Aku warganegara dunia kemanusiaan.

KESENANGAN
Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka bekasnya. Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama.
Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan;

WARISAN
Manusia yang memperoleh kekayaannya oleh kerana warisan, membangun istananya dengan yang orang-orang miskin yang lemah.

RESAH HATI
Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia akan melihat sekitarnya dan akan melihat sahabat-sahabatnya datang dan menghiburkannya. Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan kedamaiannya, dimanakah dia akan menemukannya, bagaimanakah dia akan bisa
memperolehinya kembali?

JIWA
Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan kerana alasan duniawi dan dipisahkan di hujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan.

LUAHAN
Setitiss airmata menyatukanku dengan mereka yang patah hati; seulas senyum menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam kewujudan… Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan…dari aku hidup menjemukan dan putus asa.

LAGU KEINDAHAN
Jika kamu menyanyikan lagu tentang keindahan, walau sendirian di puncak gurun, kamu akan didengari.

DIRI
Dirimu terdiri dari dua; satu membayangkan ia mengetahui dirinya dan yang satu lagi membayangkan bahawa orang lain mengetahui ia.

TEMAN MENANGIS
Kamu mungkin akan melupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu.

PEMAHAMAN DIRI
Orang-orang berkata, jika ada yang dapat memahami dirinya sendiri, ia akan dapat memahami semua orang. Tapi aku berkata, jika ada yang mencintai orang lain, ia dapat mempelajari sesuatu tentang dirinya sendiri.

HATI LELAKI
Ramai wanita yang meminjam hati laki-laki; tapi sangat sedikit yang mampu memilikinya.

PENULIS
Kebanyakan penulis menampal fikiran-fikiran mereka yang tidak karuan dengan bahan tampalan daripada kamus.

HARTA BENDA
Harta benda yang tak punya batas, membunuh manusia perlahan dengan kepuasan yang berbisa. Kasih sayang membangunkannya dan pedih peri nestapa membuka jiwanya.

OBOR HATI
Tuhan telah menyalakan obor dalam hatimu yang memancarkan cahaya pengetahuan dan keindahan; sungguh berdosa jika kita memadamkannya dan mencampakkannya dalam abu.

KESEPIAN
Kesepianku lahir ketika orang-orang memuji kelemahan-kelemahanku yang ramah dan menyalahkan kebajikan-kebajikanku yang pendiam.

KEABADIAN PANTAI
Aku berjalan selalu di pantai ini. Antara pasir dan buih, Air pasang bakal menghapus jejakku. Dan angin kencang menyembur hilang buih putih. Namun lautan dan pantai akan tinggal abadi

MEMAHAMI TEMAN
Jika kamu tidak memahami teman kamu dalam semua keadaan, maka kamu tidak akan pernah memahaminya sampai bila-bila.

MANUSIA SAMA
Jika di dunia ini ada dua orang yang sama, maka dunia tidak akan cukup besar untuk menampung mereka.

MENCINTAI
Kekuatan untuk mencintai adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia, sebab kekuatan itu tidak akan pernah direnggut dari manusia penuh berkat yang mencinta.

CERMIN DIRI
Ketika aku berdiri bagaikan sebuah cermin jernih di hadapanmu,
kamu memandang ke dalam diriku dan melihat bayanganmu. Kemudian kamu berkata,
Aku cinta kamu.
Tetapi sebenarnya, kamu mencintai dirimu dalam diriku

KEBIJAKSANAAN
Kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ia menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali dirinya sendiri.

KEBENARAN
Diperlukan dua orang untuk menemui kebenaran; satu untuk mengucapkannya dan satu lagi untuk memahaminya.

NYANYIAN PANTAI
Apakah nyanyian laut berakhir di pantai atau dalam hati-hati mereka yang mendengarnya?

(Hasil coppas dari notes Facebook seseorang, tapi lupa namanya)